Trivia 90 : DIARE

Diare atau dalam istilah awam disebut mencret didefinisikan sebagai buang air besar dengan feses tidak berbentuk (unformed stools) atau cair dengan frekuensi lebih dari 4 kali dalam 24 jam, dapat dengan atau tanpa lendir, darah, atau pus. Ada dua kriteria penting harus ada yaitu BAB cair dan sering. Penyakit Diare merupakan masalah global yang menjadi penyebab kematian pada anak nomor dua setelah pneumonia. Hampir sembilan juta anak usia di bawah lima tahun meninggal setiap tahun akibat penyakit ini. Kebanyakan orang yang meninggal akibat diare karena dehidrasi berat dan kehilangan cairan.

Pada umumnya penyebab diare adalah gangguan osmotik (makanan yang tidak dapat diserap menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus berlebihan sehingga timbul diare). Diare dapat juga terjadi karena masuknya Virus (Rotavirus, Adenovirus enteritis), bakteri atau toksin (Salmonella. E. colli), dan parasit (Biardia, Lambia). Penyebaran pathogen dikarenakan makanan dan minuman yang terkontaminasi. Beberapa mikroorganisme pathogen ini menyebabkan infeksi pada sel-sel, memproduksi enterotoksin atau cytotoksin. Hal ini akan menimbulkan gangguan sekresi akibat toksin di dinding usus, sehingga sekresi air dan elektrolit meningkat kemudian terjadi diare. Gangguan motilitas usus yang mengakibatkan hiperperistaltik dan hipoperistaltik.

 

Diare akut yaitu buang air besar dengan frekuensi yang meningkat dan  konsistensi tinja yang lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya dan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu. Diare persisten adalah diare yang berlangsung 15-30 hari, merupakan kelanjutan dari diare akut atau peralihan antara diare akut dan kronik. Diare kronis adalah diare hilang-timbul, atau berlangsung lama dengan penyebab non-infeksi, seperti penyakit sensitif terhadap gluten atau gangguan metabolisme yang menurun. Lama diare kronik lebih dari 30 hari. Gejala penyerta diare dapat berupa mual, muntah, nyeri abdominal, mulas, tenesmus, demam, dan tanda-tanda dehidrasi. Akibat dari diare itu sendiri adalah kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan asam basa (asidosis metabolik dan hypokalemia), gangguan gizi (intake kurang, output berlebih), hipoglikemia dan gangguan sirkulasi.

Tanda gejala dari diare yang perlu diwaspadia adalah demam dengan suhu lebih dari 38° C, nyeri abdomen berat (terutama pada pasien usia di atas 50 tahun, riwayat perawatan rumah sakit, berada di panti jompo, riwayat penggunaan antibiotic), disentri (darah dan mukus di tinja), frekuensi buang air besar meningkat (lebih dari 4 kali buang air besar dalam waktu 24 jam, gejala memburuk setelah 48 jam), gejala dehidrasi berat (pusing, haus berat, penurunan jumlah urin). Komplikasi dari diare sebagai akibat dari kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi dehidrasi, hipovolemik, hypokalemia, hipoglikemi, kejang dan malnutrisi energy protein.

Aspek paling penting dalam penatalaksanaan diare adalah menjaga hidrasi yang adekuat dan keseimbangan elektrolit selama episode akut. Ini dilakukan dengan rehidrasi oral, yang harus dilakukan pada semua pasien, kecuali jika tidak dapat minum atau diare hebat membahayakan jiwa yang memerlukan rehidrasi intavena. Penatalaksanaan diare dapat dilakukan dengan melakukan penilaian awal, terapi dehidrasi, mencegah dehidrasi pada pasien tanpa tanda dehidrasi menggunakan cairan atau larutan rehidrasi oral, mengambil spesimen fekal untuk analisis jika diare berat, inflamasi, berdarah atau persisten, dan pada saat awal wabah atau epidemic, mempertimbangkan terapi antimikrobial untuk patogen spesifik.

 

Menjaga hidrasi yang adekuat dan keseimbangan elektrolit selama episode akut merupakan aspek penting. Ini dilakukan dengan rehidrasi oral, pada semua pasien, kecuali jika tidak dapat minum atau diare hebat membahayakan jiwa yang memerlukan rehidrasi intavena. Idealnya, cairan rehidrasi oral harus terdiri dari 3,5 gram natrium klorida, 2,5 gram natrium bikarbonat, 1,5 gram kalium klorida, dan 20 gram glukosa per liter air. Cairan seperti ini tersedia dalam produk secara komersial dalam paket yang mudah disiapkan dengan dicampur air. Jika sediaan secara komersial tidak ada, cairan rehidrasi oral pengganti dapat dibuat dengan menambahkan ½ sendok teh garam, ½ sendok teh baking soda, dan 2-4 sendok makan gula per liter air. Dua pisang atau 1 cangkir jus jeruk diberikan untuk mengganti kalium. Jika terapi intravena diperlukan, dapat diberikan cairan normotonik, seperti cairan normal salin atau ringer laktat, suplemen kalium diberikan sesuai panduan kimia darah.

Dehidrasi ini bila tidak segera diatasi dapat membawa bahaya terutama bagi balita dan anak-anak. Bagi penderita diare ringan diberikan oralit, tetapi bila dehidrasi berat maka perlu dibantu dengan cairan intravena atau infus. Hal yang tidak kalah penting dalam menanggulangi kehilangan cairan tubuh adalah pemberian makanan kembali (refeeding) sebab selama diare pemasukan makanan akan sangat kurang karena akan kehilangan nafsu makan dan kehilangan makanan secara langsung melalui tinja atau muntah dan peningkatan metabolisme selama sakit.

 

Pemberian antibotik secara empiris jarang diindikasikan pada diare akut infeksi, karena 40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian antibiotik. Antibiotik lebih diindikasikan pada pasien dengan gejala dan tanda diare infeksi, seperti demam, feses berdarah, leukosit pada feses, mengurangi ekskresi dan kontaminasi lingkungan, persisten atau penyelamatan jiwa pada diare infeksi, diare pada pel ancong, dan pasien immunocompromised.