Gali Chloroquine Lebih Dalam : Menyembuhkan atau Mematikan?

by | Mar 29, 2020 | 0 comments

Gali Chloroquine Lebih Dalam :

Menyembuhkan atau Mematikan?

 

Kepanikan dan ketakutan masyarakarat mengenai COVID-19 belakangan ini semakin besar. Bagaimana tidak, jumlah kasus yang terus meningkat tajam setiap waktunya terus disorot oleh setiap pasang mata yang diam di rumah, menunggu waktu yang tepat untuk keluar. Untuk penyembuhannya sendiri, belum ada kepastian dari pihak ahli. Namun, belakangan ini, nama obat “chloroquine” muncul di permukaan media, sebagai salah satu obat yang berperan besar dalam penyembuhan COVID-19.

 

Apakah hal tersebut benar, mungkin sudah waktunya kita untuk menggali lebih dalam!

 

Pada hari Jumat, 3 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan telah menyiapkan tiga juta obat chloroquineuntuk menangani penyakit COVID-19. Obat itu akan digunakan untuk pasien yang telah terinfeksi virus SARS-CoV-2. Kabar mengenai chloroquine ini meledak di kalangan masyarakat, dianggap sebagai keajaiban, obat penyembuh COVID-19, dan beberapa mengonsumsinya sebagai suplemen. Banyak yang mulai berburu obat chloroquine yang diyakini ampuh mengobati virus SARS-CoV-2.

 

Setelah itu, pada tanggal 19 Maret 2020, pada konferensi pers The White House, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengklaim bahwa chloroquine dapat memberi harapan bagi para pasien COVID-19. Di saat yang bersamaan, Daniel Kim, aktor berkebangsaan Amerika, dikonfirmasi positif COVID-19 pada tanggal 19 Maret 2020 lalu.

 

Tidak lama setelah itu, Daniel Kim dinyatakan sembuh setelah melalui rangkaian prosedur medis. Di tanggal 22 Maret 2020 dalam konferensi pers, Daniel Kim menyatakan bahwa chloroquine bukanlah obat yang menjadi kunci penyembuhannya, bukan berarti masyarakat harus menggunakannya. Namum, obat chloroquine tersebut memang krusial dan merupakan salah satu obat yang digunakan dalam penyembuhannya.

 

Publikasi besar-besaran mengenai chloroquine ini dilanjutkan dengan laporan dari pemerintah Lagos, kota terbesar di Nigeria, pada tanggal 20 Maret 2020. Dalam laporan tersebut dilaporkan munculnya kasus keracunan chloroquine di beberapa rumah sakit lokal. Bahkan, sudah memakan dua korban jiwa.

 

Kasus selanjutnya mengenai keracunan chloroquine terjadi di Phoenix, Arizona pada tanggal 24 Maret 2020. Sepasang suami-istri yang mengonsumsi klorokuin tanpa resep dokter dibawa ke rumah sakit, dan dampaknya langsung terasa setelah 30 menit mengonsumsi chlrooquine. Sang suami tidak selamat, sementara Sang istri masih beruntung bisa memuntahkan kembali chloroquine yang ia konsumsi.

 

Chloroquine atau nama lainnya chloroquine phosphate, adalah obat anti malaria, dan dapat dibeli jika ada resep dokter. Chloroquine, yang dibuat dari pohon kina, sudah digunakan dalam dunia medis sejak 70 tahun lalu. Dokter akan meresepkan obat klorokuin untuk pencegahan atau sebagai tatalaksana malaria. Biasanya, chloroquine dibeli sebelum melakukan perjalanan jauh ke daerah yang berpotensi menularkan malaria. Jika dilihat, ada lingkaran berwarna merah dengan huruf “K” di kemasan chloroquine, yang berarti chloroquine merupakan golongan obat keras. Obat jenis ini bisa berbahaya jika dikonsumsi sembarangan, sehingga harus dengan resep dokter. Jika dikonsumsi sembarangan, bisa memperparah penyakit dan keracunan, bahkan kematian.

 

Dalam penelitian terbaru, dilaporkan bahwa chloroquine efektif menghambat penyebaran SARS-CoV-2 secara in vitro (di luar area tubuh, yang dibuat menyerupai keadaan di dalam tubuh). Chloroquine memblokir transport dari SARS-CoV-2 dari endosom ke endolisosom, yang berarti chloroquine mencegah transpor makromolekul dan materi yang sangat kecil ke dalam sel, yang diduga merupakan cara melepaskan genom virus dalam kasus SARS-CoV-2. Chloroquine menjadi obat pilihan karena memang digunakan di masyarakat luas, terbukti aman, dan murah. Namun, chloroquine ini hanya digunakan sebagai obat penyembuhan dari COVID-19, bukan untuk pencegahan. Virus SARS-CoV-2 harus bersarang terlebih dahulu di dalam tubuh, dan chloroquine akan menghambat penyebarannya. Untuk orang-orang yang belum terkonfirmasi terinfeksi atau masih sehat, dilarang keras untuk mengonsumsi chloroquine.

 

Beberapa obat lain juga memiliki interaksi dengan chloroquine dan dapat menyebabkan masalah yang serius. Seperti antasida, cimetidin, insulin, dan berbagai macam obat antibiotik. Salah satu alasan mengapa chloroquine tidak boleh dikonsumsi tanpa resep dokter, karena dokter yang bisa menilai seluruh obat-obatan lain yang telah dikonsumsi untuk memastikan tidak ada interaksi obat yang terjadi.

 

Apa yang terjadi jika mengonsumsi chloroquine terlalu banyak? Efek samping yang paling umum terjadi adalah sakit perut, mual, muntah, dan sakit kepala. Chloroquine bisa juga menyebabkan gatal-gatal dan psoriasis (peradangan pada kulit).

 

Mengonsumsi chloroquine tanpa resep dokter atau berlebihan dapat menyebabkan beberapa kerusakan dalam jaringan tubuh. Salah satunya adalah hipoglikemi (kekurangan zat gula dalam tubuh), termasuk kehilangan kesadaran. Kerusakan retina mata yang tidak dapat disembuhkan juga dapat terjadi pada beberapa pasien. Selanjutnya, regulasi untuk pasien yang sudah diresepkan chloroquine adalah pengamatan dan pemeriksaan refleks alat gerak, karena kelebihan chloroquine dapat membuat otot lebih lemah yang berujung ke kelumpuhan. Maka, kerusakan otot ini berisiko besar bagi orang yang mengonsumsi chloroquine tanpa resep dokter. Chloroquine juga tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil terlalu banyak pada trimester pertama (bulan 1-3). Pada penelitian, terjadi keabnormalan pada anak-anak yang lahir dari ibu yang mengonsumsi chloroquine sebagai obat lupus (SLE). Sehingga pemberian chloroquine pada ibu hamil ini harus selalu diawasi. Pemberian secara intramuskular (disuntik melalui otot) dapat menyebabkan hipotensi (tekanan darah rendah) dan henti jantung, terutama pada anak. Chloroquine harus diberikan secara hati-hati pada pasien penyakit hati, saluran cerna berat, gangguan saraf, dan penyakit darah.

 

Keracunan chloroquine dapat terjadi dalam sekejap, tidak lama setelah mengonsimsi chloroquine. Salah satu gejala awal dari keracunan chloroquine adalah mual, muntah, sakit kepala, pandangan kabur, dan aritmia (kondisi saat irama jantung tidak beraturan). Beberapa kasus melaporkan orang yang mengonsumsi chloroquine tanpa resep dokter dan sembarangan menyebabkan gangguan pada jantung, seperti takikardi (detak jantung berdetak lebih cepat), kondisi torsades de pointes (detak jantung 200-250 kali per menit dengan gerak tak beraturan). Kondisi ini dapat berlanjut ke aritmia permanen, yang sampai sekarang belum ada penyembuhannya, dan henti jantung (jantung berhendi berdetak) yang menyebabkan kematian mendadak.

 

Ditambah, World Health Organization (WHO) menyatakan belum ada bukti yang cukup bahwa chloroquine dapat menyembuhkan COVID-19. Dalam dunia kedokteran, ada berbagai macam etika dan aturan penelitian, dan penggunaan chloroquine dalam membasmi COVID-19 saat ini membutuhkan lebih banyak penelitian serta pengujian klinis yang untuk memastikan efek chloroquine pada pasien COVID-19 secara menyeluruh.

 

Setelah membaca berbagai efek samping dari chloroquine, masih berani untuk mengonsumsinya tanpa resep dokter? Lebih baik kita menjaga kebersihan dan menjaga kesehatan, dan tetap di rumah untuk mencegah penyebaran COVID-19 lebih lanjut.

 

Sumber

 

  1. Azlin, E. 2004. Obat Anti Malaria. Sari Pediatri. Vol. 5, no. 4, hh. 150-154.
  2. Cable News Network. [updates on COVID-19, diakses pada tanggal 27 Maret 2020]
  3. Centers for Disease Control and Prevention : Chloroquine. [diakses pada tanggal 27 Maret 2020]
  4. Marmor MF, Kellner U, and Lai TY, et al. 2016. Recommendations on Screening for Chloroquine and Hydroxychloroquine Retinopathy (2016 Revision). Ophthalmology 2016. vol. 123, no. 6, hh. 1386-1394.
  5. World Health Organization. [diakses pada tanggal 27 Maret 2020]