“HAPPY HYPOXIA”

by | Nov 23, 2020 | 0 comments

Hipoksia merupakan sebuah kondisi dimana terjadi penurunan kadar oksigen pada jaringan. Kadar oksigen normal yang seharusnya ialah 75-100 mmHg dengan menggunakan pengukuran darah arteri dan sebesar 95%-100% dengan menggunakan pulse oximeter. Hipoksia dapat disebabkan oleh banyak faktor. Hipoksia umumnya ditandai dengan timbulnya gejala utama berupa sesak nafas (dyspnea) pada pasien. Namun terdapat keadaan dimana hipoksia tidak menunjukan gejala sesak nafas (dyspnea) tetapi pasien mengalami hipoksia dan merasa keadaan baik-baik saja hingga akhirnya mengalami penurunan kesadaran. Kondisi hipoksia tanpa timbulnya sesak nafas ini yang disebut silent hypoxia atau happy hypoxia.
Sesak nafas (dyspnea) merupakan respon tubuh terhadap hipoksia. Tubuh manusia sangat sensitif terhadap peningkatan konsentrasi CO2 dalam tubuh kita. Peningkatan CO2 dalam tubuh manusia akan menstimulasi carotid bodies yang berlokasi di leher kita. Sinyal dari carotid bodies ini akan diteruskan ke medulla obloganta. Lalu medulla obloganta akan memberi perintah kepada saraf di diafragma untuk menginkatkan volume udara yang masuk ke dalam tubuh kita. Rangkaian mekanisme inilah yang menyebabkan timbul sensasi sesak nafas atau dyspnea yang mana tidak ditemukan pada kondisi happy hypoxia.
Penyebab dari happy hypoxia masih belum jelas hingga saat ini tetapi terdapat beberapa teori yang mendukung terjadinya happy hypoxia. Teori hipotesis pertama ialah terjadinya kerusakan pada mitokondria sel pembuluh darah paru akibat virus SARS-CoV2. Hal ini menyebabkan pembuluh darah yang berada di paru-paru gagal mengalami penyempitan dan juga menyebabkan penurunan sensitifitas carotid bodies. Selain itu terdapat teori yang mengatakan happy hypoxia terjadi karena timbulnya sumbatan kecil pada pembuluh darah paru-paru seperti yang ditemukan pada sebagian besar pasien COVID-19. Namun, hingga saat ini masih belum terdapat penjelasan mengenai hubungan sumbatan ini dengan happy hypoxia. Selain teori itu, terdapat hipotesis lain yang menyatakan bahwa terdapat gangguan pada sistem saraf aferen yang berfungsi dalam regulasi keseimbangan kadar O2 dan CO2 dalam tubuh akibat adanya badai sitokin yang disebabkan virus SARS-CoV2.
Dalam penelitian yang sudah dilakukan, data menunjukan bahwa pasien COVID-19 yang memiliki risiko terkena happy hypoxia ialah mereka yang sudah lanjut usia dan pasien COVID-19 yang memiliki penyakit diabetes. Hal ini dapat terjadi karena penderita diabetes maupun orang dengan usia diatas 65 tahun mengalami penurunan respon terhadap hipoksia hinggal 50% dari kondisi normal. Happy hypoxia sebenarnya sudah ada sebelum pandemik COVID-19 dan tidak hanya dapat terjadi pada pasien COVID-19, dimana happy hypoxia mampu terjadi pada penderita kelainan katup pada jantung (intrapulmonary shunt dan intracardiac shunt) dan penderita atelektasis.
Dalam mencegah happy hypoxia pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit, disarankan untuk menggunakan pulse oximeter yang dapat mengukur kadar oksigen dalam tubuh. Sedangkan bagi penderita COVID-19 tanpa gejala yang hanya melakukan isolasi mandiri di rumah, disarankan agar selalu waspada terhadap perubahan kondisi tubuh. Apabila merasa lemas tanpa melakukan aktivitas tertentu, diharapkan agar segera mencari bantuan ke rumah sakit.