TRIVIA 114 | HENTI JANTUNG

by | Dec 27, 2019 | 0 comments

Henti Jantung, Haruskah Dikejut?

 

Dunia perfilman di era modern ini tentunya menjadi sorotan masyarakat. Adegan-adegan tentunya dibuat sedramatis mungkin. Namun, yang tidak diperhatikan oleh tim produksi adalah keakurasian dari adegan tersebut. Sayangnya, hal ini juga terjadi dalam dunia medis, yang bisa menyebabkan masyarakat awam salah paham mengenai berbagai prosedur medis.

Salah satunya adalah adegan kejut jantung. Selagi penyakit gagal jantung merupakan penyakit yang umum dengan insiden yang cukup banyak, serta tentunya menarik perhatian banyak masyarakat, adegan penanganan gagal jantung selalu menjadi sorotan. Selalu dikisahkan seorang aktor mengalami gagal jantung, dan di monitor terlihat garis lurus, maka dokter-dokter akan melakukan kejut jantung dengan defibrillator. Jika belum berhasil, sang dokter melakukannya berulang-ulang sampai pasien tersebur sadar. Adegan yang klise dengan stereotip yang keliru.

Prosedur ini tentunya bukan tatalaksana yang benar untuk penanganan henti jantung. Penanganan henti jantung ini sebenarnya tidak melulu disetrum. Sebenarnya, ada kriteria tertentu di dalam algoritma yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum bertindak.

Henti jantung terjadi ketika jantung kehilangan kemampuan memompa darah sebagaimana mestinya. Ciri-ciri henti jantung adalah nafas sesak saat beristirahat atau berbaring yang diperberat oleh aktivitas fisik, detak jantung tidak beraturan, dan bahkan bisa kehilangan kesadaran. Salah satu tanda yang sering muncul saat henti jantung adalah agonal breathing, yaitu nafas pendek dan terengah-engah.

Untuk penanganan henti jantung, yang pasti pertama kali dilakukan adalah resusitasi jantung dan paru (RJP). RJP yang baik dan benar adalah posisi kaki tripod seperti menopang tubuh, yaitu bagian lurut dibuka sejajar dengan bahu dan kaki menempel seperti membuat bentuk segitiga untuk menumpu,  dengan kedalaman 5-6 cm untuk orang dewasa (berada di setengah bagian tulang dada atau sternum), 4 cm untuk anak-anak (berada di separuh bagian tulang dada), dan  5 cm untuk bayi (dengan dua jari di bagian tengah dada, di bawah baris puting), dan kecepatan 100-120 kali per menit, minimal interupsi atau gangguan, dan dilakukan lima kali siklus (satu siklus terdiri dari 30 kali kompresi dan dua kali bantuan nafas untuk satu penolong, dan 15 kali kompresi dan dua kali bantuan nafas untuk dua penolong). Untuk orang awam, biasanya dilakukan hanya kompresi terus-menerus. Orang awam harus melakukan hanya kompresi jika tidak dapat atau tidak mau memberikan napas bantuan, meskipun metode RJP terbaik adalah kompresi yang dikoordinasikan  dengan ventilasi. Namun, untuk mencegah adanya hal-hal yang tidak diinginkan, semuanya kembali disesuaikan dengan kondisi korban dan penolong.

Selagi melakukan RJP, bisa memasang monitor atau automated external defibrillator (AED) untuk melihat ritme jantung. Ritme jantung dibagi menjadi dua, yaitu ritme yang dapat dikejut atau disyok (shockable) dan ritme yang tidak dapat dikejut atau disyok (non-shockable). Ritme inilah yang menentukan apakah kita melanjutkan melakukan RJP, atau kita kejut menggunakan defibrillator. Alat di rumah sakit yang digunakan untuk memonitor ritme jantung adalah elektrokardiogram (EKG).

Ritme jantung yang dapat dikejut dibagi lagi menjadi dua, yaitu ventricular tachycardia (VT) dan ventricular fibrillation (VF). Keduanya disebabkan oleh gangguan listrik dalam jantung. Ventricular tachycardia atau ventrikel takikardi adalah kondisi di mana ventrikel (bilik) jantung berdetak terlalu cepat. Akibatnya, jantung tidak dapat memompa darah secara efektif, sehingga tubuh kekurangan oksigen. Sementara ventricular fibrillation atau ventrikel fibrilasi terjadi saat bilik jantung yang seharusnya berdenyut, menjadi hanya bergetar, sehingga tidak memompa darah. Jika terjadi salah satu di atas, barulah kita boleh untuk menggunakan alat kejut untuk jantung.

Setelah dikejut, dilanjutkan dengan RJP selama dua menit. Lalu, kembali cek monitor ritme jantung, apakah sudah kembali normal atau masih shockable. Jika ternyata ritmenya sudah non-shockable, bisa melanjutkan RJP biasa. Jika ritme jantung masih shockable, dikejut terlebih dahulu lalu lakukan RJP selama dua menit, dengan pemberian epinefrin setiap 3-5 menit. Cek kembali apakah ritme masih shockable atau non-shockable. Seperti yang tadi, jika non-shockable, bisa melakukan RJP biasa. Sementara jika masih shockable, biasanya di rumah sakit akan ada penentuan kondisi VT dan VF untuk menetapkan tindakan selanjutnya seperti administrasi obat.

Sementara untuk RJP biasa bisa langsung digunakan di ritme jantung non-shockable atau ritme yang tidak dapat disyok. Ritme jantung non-shockable dibagi menjadi dua, yaitu asistol dan pulseless electrical activity (PEA). Asistol merupakan ritme jantung yang dicirikan oleh tidak adanya aktivitas elektrik pada gambaran elektrokardiogram, biasa digambarkan sebagai flat line atau garis lurus. Oleh karena tidak terdapat aktivitas elektrik, maka tidak terdapat pula denyutan jantung. PEA aktivitas listrik tanpa denyut adalah suatu keadaan dimana masih terdapat aktivitas listrik jantung, tetapi tidak disertai dengan respon mekanik jantung berkontraksi untuk menghasilkan denyut yang teraba atau tekanan darah yang terukur. Hal ini ditandai dengan adanya gambaran aktivitas listrik pada monitor EKG, tetapi pasien tidak sadar, tidak bernafas, dan tidak ditemukan denyut nadi. Pada keadaan ini ventrikel masih berkontraksi tetapi tidak cukup kuat menimbulkan pulsasi yang dapat diraba.

Dalam keadaan asistol atau PEA, dilakukan RJP selama dua menit dan epinefrin selama 3-5 menit sekali. Lalu, irama jantungnya dimonitor. Tidak menutup kemungkinan bahwa dalam keadaan asistol atau PEA, ritme jantung berubah menjadi shockable. Jika ritme berubah menjadi shockable, kembali lakukan penanganan sesuai alogaritma shockable. Jika ritme jantung masih sama, kembali lakukan RJP selama 2 menit.

Korban henti jantung dinyatakan sudah stabil jika sudah teraba nadi selama 10 menit dan tanda sirkulasi bertahan atau berkelanjutan. Keadaan ini disebut sebagai return of spontaneous circulation (ROSC). Tanda terjadinya ROSC adalah adanya nadi karotis teraba dan tekanan darah terukur. Untuk pemberian obat-obatan, sebaiknya jangan membuat keputusan sendiri, melainkan diberikan langsung oleh dokter.

Fenomena-fenomena kekeliruan tersebut bukan hanya di bidang medis saja, tetapi bidang lain juga. Masih banyak lagi media hiburan yang akurasinya dipertanyakan. Jika sampai salah kaprah dan diterapkan di kehidupan nyata, bisa berbahaya. Jadi, jangan lupa carilah informasi dan galilah ilmu sebanyak-banyaknya, agar terhindar dari informasi palsu yang terlalu hiperbola.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber :

  1. American Heart Association, 2018
  2. American Heatt Association. ACLS Provider Manual Supplementary Materia 2019
  3. Buku Ajar Basic Cardiac Life Support 2019. Jakarta : Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia.
  4. Buku Ajar Advanced Cardiac Life Support 2019. Jakarta : Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia.
  5. Rampengan, SH. 2014. Buku Praktis Kardiologi. Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Michael. R, et al. 2008. Hands-Only (Compression-Only) Cardiopulmonary Resuscitation: A Call to Action for Bystander Response to Adults Who Experience Out-of-Hospital Sudden Cardiac Arrest. Circula