TRIVIA 116 | SINGKAP MEKANISME TRANSFUSI DARAH

by | Jan 10, 2020 | 0 comments

Pernahkah kalian  mendonorkan darah kalian? Nah, sebelum kalian dipastikan boleh untuk mendonorkan darah kalian, pasti ada beberapa wawancara atau tes yang kalian harus lakukan, dan formulir yang harus kalian isi. Dari pertanyaan mengenai golongan darah hingga pengecekan kondisi vital tubuh. Jika lolos, baru bisa mendonorkan darah. Semua rangkaian tersebut dilakukan karena darah yang kalian donorkan nantinya akan disalurkan atau diberikan kepada orang lain, proses ini disebut sebagai transfusi darah. Risikonya bisa sangat berbahaya jika darah yang masuk tidak sesuai dengan kondisi tubuh penerima. Lalu, apa yang terjadi jika seseorang salah menerima transfusi darah? Bagaimana jenis-jenis pembagian golongan darah untuk ditransfusi? Tahukah kalian bahwa golongan darah seseorang mempengaruhi jenis dari transfusi tersebut? Yuk kita simak di bawah ini untuk menemukan jawabannya!

Transfusi darah merupakan rangkaian proses memindahkan darah atau komponen darah dari donor kepada resipien (penerima). Transfusi darah bertujuan untuk mengembalikan serta mempertahankan volume normal peredaran darah, meningkatkan penyebaran oksigen jaringan, luka bakar, dan mempertahankan daya tahan tubuh terhadap infeksi. Dalam melakukan transfusi darah terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan khususnya golongan darah dari donor dan juga resipien (penerima). Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan golongan darah?

Golongan darah merupakan pengelompokan darah dari suatu kelompok berdasarkan ada atau tidaknya zat antigen (zat yang merangsang respon pertahanan tubuh terhadap zat asing yang masuk seperti infeksi)  pada permukaan sel darah merah. Antigen ini yang nantinya memelopori pembentukan antibodi (zat yang bertugas untuk melawan zat asing yang masuk ke dalam tubuh). Penggolongan darah ini terbagi atas penggolongan ABO dan rhesus. Jenis-jenis golongan darah ABO menurut Landsteiner ada 4 macam, yaitu:

  1. Golongan darah A : Mempunyai antigen A dan antibodi B
  2. Golongan darah B : Mempunyai antigen B dan antibodi A
  3. Golongan darah O : Tidak mempunyai antigen A dan B tetapi mempunyai antibodi                                A dan B
  4. Golongan darah AB : Tidak mempunyai antibodi A dan B tetapi mempunyai antigen                                A dan B

Rhesus merupakan penggolongan darah berdasarkan ada atau tidaknya protein atau faktor Rh pada permukaan sel darah merah. Hal ini dibagi menjadi dua rhesus yaitu Rhesus negatif dan Rhesus positif.

Jenis- jenis golongan darah dapat menentukan transfusi darah yang dibutuhkan oleh penerima. Bila tidak mengikuti aturan, darah yang telah diterima akan menggumpal atau biasa disebut sebagai aglutinasi. Pada skema transfusi darah, golongan darah O dapat memberikan darahnya ke semua golongan darah sehingga golongan darah O disebut donor universal. Hal ini terjadi karena sel-sel golongan darah O tidak mengandung kedua protein yang dapat menggumpal, sehingga pendonor dengan golongan darah O dapat diberikan ke hampir setiap resipien (penerima) tanpa terjadi reaksi penggumpalan dengan cepat. Golongan darah AB disebut resipien universal karena dapat menerima darah dari semua golongan darah. Secara lebih lengkap, berikut skema transfusi darah sesuai penggumpalan yang mungkin terjadi saat melakukan transfusi darah:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Skema transfusi darah ini sebaiknya diikuti agar tidak terjadi reaksi penggumpalan pada darah penerima. Gumpalan darah ini bisa menyumbat pembuluh darah dan menghentikan sirkulasi darah ke bagian lain tubuh sehingga bisa berakibat fatal bagi pasien, termasuk kematian yang cepat. Gejalanya seperti mual, menggigil, demam, dada dan di bagian punggung bawah terasa nyeri, serta urin juga berwarna gelap karena kerja ginjal menjadi berat.

Dalam melakukan transfusi darah, terdapat beberapa indikasi umum yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Kehilangan darah akut, bila 20-30% total volume darah hilang dan perdarahan masih terus terjadi
  2. Anemia (kekurangan kadar hemoglobin di dalam darah) berat
  3. Syok septik (infeksi luas yang menyebabkan kegagalan organ dan tekanan darah rendah yang berbahaya)
  4. Memberikan plasma dan trombosit sebagai tambahan faktor pembekuan yang berperan dalam menyembuhkan luka, karena komponen darah spesifik yang lain tidak ada.
  5. Transfusi tukar pada bayi yang baru lahir dengan ikterus warna kuning yang tampak pada kulit

Setelah indikasi tersebut terpenuhi, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan transfusi darah, yaitu:

  1. Kantung darah transfusi tidak bocor
  2. Golongan darah donor sama dengan golongan darah resipien (penerima). Pada kasus gawat darurat, kurangi risiko terjadinya ketidakcocokan atau reaksi transfusi dengan melakukan uji silang golongan darah spesifik atau beli golongan darah O bila tersedia
  3. Kantung darah tidak berada di luar lemari es lebih dari 2 jam
  4. Tanda gagal jantung

Sudah tau kan, bagaimana proses darah setelah didonorkan? Nah, jadi donor darah itu bukan hanya sekedar donor darah, ya! Perlu kecermatan dalam melakukannya. Banyak sekali proses yang ada setelahnya yang harus kalian ketahui dan tidak bisa dipandang remeh. Karena keliru sedikit saja, akibatnya bisa fatal dan nyawa orang lain lah yang jadi taruhannya. Sampai ketemu di trivia selanjutnya!

 

Sumber

 

  1. Wahidiyat, P. A., & Adnani, N. B. (2017). Transfusi Rasional pada Anak. Sari Pediatri, 18(4), 325-31.
  2. (2016). Transfusi Darah. [Online] Available at: http://www.ichrc.org/106-transfusi-darah [Accessed 20 August 2019].
  3. Anwar, Saiful. (2015). Transfusi Darah [Online] Available at: http://ppds.fk.ub.ac.id/wp-content/uploads/2015/10/TRANSFUSI-DARAH.pdf [Accesed 21 August 2019]