TRIVIA 117 | Dekompresi Mengintai, Sudah Siapkah Menyelam dengan Aman?

by | Feb 5, 2020 | 0 comments

Dekompresi Mengintai, Sudah Siapkah Menyelam dengan Aman?

Aktivitas menyelam merupakan kegiatan yang saat ini banyak digandrungi oleh banyak orang terutama pecinta alam bahari. Apalagi, saat ini kita tinggal di Indonesia yang kaya akan keanekaragaman lautnya, sehingga peminat olahraga menyelam pun cukup banyak. Selain dilakukan untuk menyalurkan hobi, menyelam juga menjadi salah satu kompetensi yang diperlukan oleh beberapa kalangan seperti anggota TNI maupun Polisi, hingga anggota SAR. Namun dibalik keseruan aktivitas menyelam, terdapat suatu kondisi yang dapat mengancam nyawa apabila dalam proses penyelaman tidak dilakukan sesuai prosedur. Kondisi yang dimaksud ialah penyakit dekompresi atau decompression sickness.

Penyakit Dekompresi (PD) merupakan kumpulan gejala yang terjadi akibat penurunan tekanan sekitar. Penyakit ini terjadi karena pelepasan dan pengembangan gelembung-gelembung gas dari fase larut dalam darah atau jaringan. Penyakit ini ditemukan oleh ahli fisiologi Perancis bernama Paul Bert yang mengamati pekerja pembuat terowongan bawah tanah yang bekerja di kedalaman laut mengalami suatu kondisi aneh ketika kembali ke permukaan dengan waktu yang cepat.

Komponen gas utama yang menyebabkan dekomresi adalah nitrogen. Nitrogen memiliki sifat yang berbeda dengan oksigen yang dengan mudah dapat diserap oleh tubuh. Nitrogen memiliki sifat sulit diserap tubuh dan hanya terakumulasi dalam tubuh hingga jaringan jenuh pada tekanan lingkungan tertentu. Setelah tekanan sekitar menurun, kelebihan nitrogen ini dilepaskan. Namun perlu diperhatikan, ketika penyelam terlalu cepat naik ke permukaan, perubahan tekanan yang mendadak inilah yang menyebabkan penyakit dekompresi. Saat dekompresi terjadi, gelembung-gelembung gas nitrogen dilepaskan ke dalam jaringan maupun darah. Gejala ini dapat hilang dengan sendirinya, namun pada kondisi tertentu gelembung yang terbentuk dapat menyumbat pembuluh darah dan organ.

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit dekompresi beragam mulai dari yang ringan hingga berat. Penyakit Dekompresi (PD) dapat dikategorikan secara umum menjadi 2 yakni PD Tipe I dan PD Tipe II. PD Tipe I/pain only bendsditandai dengan nyeri sendi, bengkak kemerahan pada sendi, serta gatal-gatal. Sementara pada PD Tipe II/ serious decompression sickness merupakan kondisi yang lebih serius ditandai dengan adanya gangguan pada sistem saraf pusat, gangguan telinga bagian dalam, hingga gangguan di jantung-paru. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit dekompresi adalah kurangnya kebugaran fisik, peningkatan usia, obesitas, dehidrasi, cedera fisik, penggunaan alkohol selama menyelam, penyelaman berulang, kedalaman menyelam, serta durasi menyelam yang lebih dari 2 jam.

Pertolngan pertama yang dapat dilakukan pada seseorang dengan Penyakit Dekompresi adalah dengan (1)  Turun ke kedalaman 9 meter; (2) Napas oksigen 100% full face mask selama 30 menit untuk kasus ringan, serta 60 menit untuk kasus berat; (3) Jika ada perbaikan, naik ke permukaan dengan kecepatan 1 meter dalam 12 menit; (4) Jika Tidak terdapat perbaikan, lanjutkan pada kedalaman yg sama selama 30 menit lagi; (5) Saat tiba di permukaan, lanjutkan bernapas dengan O2 dan Udara Bebas secara bergantian setiap 1 jam selama 12 jam. Jika gejala PD yang dialami masih belum menunjukkan perbaikan, penanganan lanjutan yang dilakukan adalah dengan melakukan terapi RUBT (Ruang Udara Bertekanan Tinggi) sesuai dengan tipe PD yang dialami.

Penyakit dekompresi dapat dicegah secara primer dan sekunder. Secara primer PD dihindari dengan mengatur kecepatan naik ke permukaan tidak melebihi 2 meter/menit dengan cara Zigzag atau spiral. Sementara pencegahan secara sekunder dilakukan dengan memperhatikan riwayat PD sebelumnya. Seseorang dengan riwayat PD ringan minimal dalam 3-4 minggu serta seseorang dengan riwayat PD berat dilarang menyelam lagi. Pencegahan lainnya ialah dengan membatasi durasi menyelam yang tidak boleh melebihi 10 menit.

Biasanya, untuk mencegah penyakit dekompresi, sebelum menyelam, penyelam harus memastikan bahwa kondisi tubuhnya memungkinkan untuk menyelam. Sebelum menyelam, penyelam akan diberi kuesioner mengenai situasi dan kondisi tubuh mereka. Untuk pengananan lebih lanjut, lebih baik para penyelam menaati aturan keamanan menyelam dan perintah dari instruktur selam, komunikasikan dengan instruktur mengenai batasan kedalaman dan durasi menyelam. Jika perlu, gunakan dive computer atau alat khusus yang dapat membantu penyelam mengukur kedalaman hingga durasi penyelaman. Terapkan safety stop atau berhenti beberapa menit di kedalaman tertentu (4-5 meter), sebelum kembali ke permukaan. Hindari penerbangan atau perjalanan ke tempat tinggi, setidaknya 24 jam setelah menyelam. Terakhir yang paling penting, pastikan minum yang cukup. Seseorang yang baru pulih dari penyakit dekompresi, dianjurkan untuk tidak melakukan penyelaman terlebih dahulu, setidaknya untuk 2 minggu.

Sekarang, sudah tahu kan kalau menikmati perjalanan dan liburan, akan tetap ada peraturan dan keamanan yang berlaku untuk  menghindari hal-hal yang tidak diinginkan? Nah, ditunggu ya informasi selanjutnya di Trivia yang akan datang!

 

 

 

 

Sumber:

  1. Lang, M.A., J.U. Maeir, T.L. Streeter, and K.B.V. Hoessen. (2013). Diving Physiology and Decompression Sickness: Considerations from Humans and Marine Animals. Smithsonian Contributions to The Marine Sciences, 39.
  2. Gosh, D.K., C. Kodange, C.S. Mohanty, and R. Verma. (2016). Decompression Sickness (DCS) and Diving Illness Mimicking DCS: A Case Series. Jour. Marine Medical Society, 18(1), 40-44.
  3. Duke, H.I., S.R. Widyastuti, S. Hadisaputro, dan S. Chasani. (2017). Pengaruh Kedalaman Menyelam, Lama Menyelam, Anemia Terhadap Kejadian Penyakit Dekompresi pada Penyelam Tradisional. Kesehat. Masy. Indones. 12(2), 12-18.
  4. Kwandou, L. (2016). Penyakit Dekompresi. Presentasi Sistem Neuropsikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.