TRIVIA 121 | SOMATOFORM, Penyakit yang “Tidak Masuk Akal”

by | Jun 9, 2020 | 0 comments

SOMATOFORM, Penyakit yang “Tidak Masuk Akal”
Pernahkah kalian mendengar penyakit yang “tidak masuk akal”? Seperti contohnya, merasa nyeri di bagian perut, tetapi jika dicari sumber penyebabnya, hasilnya nihil. Dibawa ke dokter juga tidak ditemukan apa-apa. Dengan budaya tradisional kita yang lekat dengan dunia lain, biasanya orang-orang langsung beranggapan bahwa ada intervensi dari sisi mistis. Namun, di dunia medis, penyakit yang tidak bisa dideteksi tersebut dikenal dengan istilah somatoform atau penyakit somatisasi. Memangnya benar, ada penyakit yang "tidak masuk akal" seperti itu? Yuk, kita simak bersama-sama!
Somatoform atau yang lebih dikenal dengan somatoform disorder merupakan sebuah gangguan yang ditandai dengan lebih dari satu keluhan dalam masalah kesehatan yang tidak spesifik atau kadang tidak masuk akal namun sudah dikeluhkan sejak dulu. Somatoform ini biasa dimulai dengan gangguan secara fisik yang jika ditelusuri penyebabnya, tidak ditemukan pemicu dalam tubuh. Gangguan secara fisik ini bersifat nyata, bahkan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Jika dilihat sekilas, tidak ada bedanya dengan penyakit fisik yang “masuk akal”, pasien tetap akan merasakan sakit sampai hari-hari ke depannya. Somatoform sering dikaitkan pada kondisi pikiran seseorang, seperti kecemasan atau stres.
Somatoform berhubungan dengan depresi, gangguan kecemasan, pemakaian obat terlarang, kelainan kepribadian, post-traumatic stress disorder atau gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan pengalaman buruk dengan pelayanan kesehatan sebelumnya, seperti pembedahan terbuka. Hal yang unik mengenai somatoform adalah lebih banyak perempuan yang mengidap somatoform daripada laki-laki.
Somatoform dapat dicurigai jika keluhan pasien mengenai gangguan fungsi tubuh atau organ tidak ada hubungannya dengan status kesehatan pasien sekarang, seperti keluhan nyeri yang terus menerus pada bagian pencernaan, kemaluan, dan saraf. Saat di selidiki, tidak ditemukan faktor yang memberatkan dan yang meringankan nyeri yang dialami oleh pasien tersebut. Nyeri yang dialami juga kurang spesifik, dan sulit menunjukkan lokasinya dengan tepat. Setelah dilakukan beberapa penanganan yang harusnya efektif untuk penyakit tersebut, tidak ada hasil yang signifikan. Jika terjadi hal seperti ini, dapat diringankan dengan pemberian antidepresan, dan obat pereda sakit yang tidak mengandung narkotika. Penderita somatoform juga terkadang melakukan shopping doctors, yaitu mengunjungi banyak dokter yang berbeda, walaupun hasil diagnosisnya sama. Mereka beranggapan bahwa tidak ada dokter yang mengerti mengenai penyakitnya, bahwa penyakit tersebut benar-benar nyata dan terus-menerus mecari pendapat kedua dari dokter lain. Diagnosis ditetapkan ketika keluhan terjadi selama minimal dua tahun.
Diagnosis harus dilanjutkan dengan menghindari evaluasi yang berlebihan, hal ini agar tidak membuat kondisi pasien bertambah buruk atau memperparah nyerinya. Somatoform berhubungan dengan sistem limbik (struktur otak yang mendukung berbagai fungsi seperti emosi, perilaku, motivasi, memori jangka panjang, dan penciuman) dan sistem kortikal (struktur otak yang mendukung fungsi budaya, bahasa, ingatan, dan pemahaman) yang akan mengakibatkan nyeri dan nyeri kronis. Oleh karena itu, evaluasi yang berlebihan sebaiknya dihindari.
Hal yang dapat dilakukan terhadap orang yang terdiagnosis somatoform adalah melakukan psikoterapi. Sangat disarankan pada pasien Somatoform agar mendapatkan bantuan dari psikoterapis. Terapi yang dapat dilakukan adalah terapi kognitif perilaku atau biasa disebut CBT (Cognitive Behavioral Therapy). Tujuan dari CBT ini adalah untuk mengubah kognitif atau pola pikir seseorang secara perlahan. Dalam kasus somatoform, CBT dilakukan untuk mengendalikan stres dan pemicu dari pikiran bagi pasien, agar gangguan fisik yang dialami muncul seminimal dan sejarang mungkin. Dikarenakan kesembuhan total sangat jarang terjadi, maka pengaturan berkala dengan jadwal yang tetap dapat menghasilkan kondisi yang membaik. Namun, tidak ada kesembuhan instan bagi penderita, melainkan perbaikan yang berkala.
Kini, kalian sudah tau kan sisi medis dari penyakit “tidak masuk akal”? Alangkah baiknya kita tidak langsung berasumsi dan memilih untuk berobat ke dokter terlebih dahulu. Memang wajar berpikir yang aneh-aneh, mengingat kondisi Indonesia yang kental dengan ilmu tradisionalnya. Namun, tidak ada salahnya juga untuk diperiksa ke tenaga medis. Sampai jumpa di trivia selanjutnya!
Sumber:
1. Kanaan R, Wessely S. Factitious disorders in neurology: an analysis of reported cases. Psychosomatics 2010;51:47–54.
2. Smith JK, Jozefowicz RF. Diagnosis and treatment of somatoform disorders. Neurology: Clinical Practice. 2012;2(2):94–102.
3. Haller, H., Cramer, H., Lauche, R. and Dobos, G. (2015). Somatoform Disorders and Medically Unexplained Symptoms in Primary Care. Deutsches Aerzteblatt Online.